Hari Tanpa Tembakau Sedunia 31 Mei

Hari Tanpa Tembakau Sedunia 31 Mei kami kutip dari website www.enkosa.com Sejak 1987, WHO fokus pada epidemi tembakau dan penyakit yang ditimbulkannya. Rokok menyebabkan berbagai jenis penyakit seperti kanker, jantung, stroke, dan penyakit paru-paru. Angka kematian di Indonesia mencapai 8 juta pertahun diakibatkan penyakit terkait rokok, angka kematian dengan penyebab yang sama akan meningkat jika tidak dicegah. Selain itu, 1,2 juta kematian terjadi akibat paparan asap rokok orang lain atau perokok pasif.

Hari Tanpa Tembakau Sedunia 31 Mei
Hari Tanpa Tembakau Sedunia 31 Mei

Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah salah satu kampanye kesehatan oleh WHO, bersama dengan Hari AIDS Sedunia, Hari Tuberkulosis Sedunia, Hari Malaria Sedunia dan lain-lain. Selama bertahun-tahun, industri tembakau telah menggunakan strategi untuk menarik kaum muda pada rokok dan produk nikotin. Berbagai upaya pemasaran telah dilakukan untuk menggantikan jutaan orang yang meninggal akibat rokok, dengan konsumen baru yaitu generasi muda.

Oleh karena itu, WHO berupaya agar generasi muda tidak menjadi sasaran industri untuk konsumen baru. Rokok masih menjadi masalah yang tidak bisa dilepaskan di Indonesia. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa prevalensi perokok di Indonesia pada usia sekitar 15 tahun meningkat 36,3% dibandingkan tahun 1995 yang sebesar 27%. Tak heran jika Indonesia menjadi negara ketiga dengan jumlah perokok terbanyak di dunia setelah China dan India.

Mengapa Hari Tanpa Tembakau Sedunia masih diperingati, terutama di Indonesia?

Itulah alasan mengapa Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) diperingati di Indonesia, karena dapat menjadi momentum untuk mengingatkan dan mensosialisasikan kepada masyarakat luas tentang bahaya rokok dan dampaknya bagi kesehatan. Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) atau Hari Tanpa Tembakau Sedunia diperingati setiap 31 Mei dengan tema yang berubah setiap tahun.

Perubahan tema tersebut dimaksudkan untuk mengingatkan masyarakat tentang bahaya rokok dan dampaknya bagi kesehatan. Berbagai upaya industri rokok untuk memanipulasi kaum muda:

  1. Memberikan berbagai macam rasa yang diminati anak muda, seperti rasa permen dan pepermi
  2. Desain baru, menarik, mudah dibawa-bawa dan terlihat keren.
  3. Promosi bahwa produk baru kurang berbahaya atau lebih bersih daripada rokok konvensional.
  4. Peran selebriti atau influencer dalam memasarkan produk rokok dan nikotin.
  5. Letak rokok di area perbelanjaan yang dekat dengan jajanan, permen atau soda membuat anak muda penasaran dan akhirnya mencoba rokok.
  6. Penjualan rokok di retail dekat sekolah menyebabkan siswa banyak merokok karena murah dan mudah didapat.
  7. Pemasaran melalui penggunaan rokok dalam film, drama, atau siaran online.
  8. Regulasi penjualan rokok kurang ketat, sehingga anak di bawah umur bisa membelinya.

Dengan berbagai taktik yang digunakan, WHO mengajak para influencer untuk bersama-sama memberikan edukasi kepada generasi muda agar menjauhi rokok. Dari hasil penelitian, disebutkan bahwa sebagian besar perokok memulai sejak mereka remaja. Semakin muda seseorang mencoba rokok, semakin besar kemungkinan mereka menjadi kecanduan.

Sehingga sangat penting mencegah generasi muda untuk mencoba rokok dan produk nikotin karena generasi ini adalah kunci masa depan masyarakat. Selain itu, di tengah pandemi Covid-19, menurut WHO, perokok lebih rentan tertular Covid-19. Hal ini terjadi karena seringnya kontak dengan jari tangan dan rokok ke area sekitar mulut.

Seperti kita ketahui, penularan Covid-19 melalui tetesan yang masuk melalui mata, hidung dan mulut sehingga kontak dengan jari dan rokok menimbulkan risiko penularan. Selain itu, perokok rentan dengan gangguan paru-paru, sehingga hal ini akan meningkatkan risiko infeksi Covid-19 menjadi lebih berat dengan berbagai komplikasi. Say No to Tobacco! Demikian artikel tentang hari tanpa tembakau sedunia 31 mei semoga dapat bermanfaat untuk Anda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *